Sunday, February 16, 2014

Makanan Fermentasi, Cegah Diabetes dan Baik untuk Imunitas


Foto : Gizmodo

KOMPAS.com– Makanan yang difermentasi awalnya tak dipandang sebagai asupan bermanfaat bagi kesehatan. Namun pangan, yang diolah dengan cara didiamkan selama beberapa hari atau minggu sebelum dikonsumsi ini, ternyata menjadi sumber kesehatan baru.   
Di Amerika, saat ini sayuran yang difermentasi dan minuman kombucha tengah menjadi tren makanan sehat. Kombucha adalah minuman teh berbusa hasil fermentasi yang sudah dikenal lama di China.
Tren ini juga didukung oleh manfaatnya berdasarkan hasil riset. Minggu lalu peneliti dari Cambridge University melaporkan, rutin konsumsi produk susu rendah lemak hasil fermentasi, seperti yoghurt, fromage frais, dan cottage cheese, dapat menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2 sebesar 25 persen selama kurun waktu lebih dari 11 tahun.
Fromage frais adalah keju segar yang lembut terbuat dari susu dan beberapa menggunakanunpasteurized cream. Meski lunak, rasa fromage frais sangat tajam. Sedangkan blue cheese adalah adalah keju berwarna biru akibat pertumbuhan bakteri dan jamur di dalamnya. Blue cheese dibuat dari susu domba dan difermentasi bakteri Penicilium roqueforti.
Dalam proses fermentasi, mikroba mengonsumsi makanan terlebih dulu daripada manusia. Bakteri kemudian mengurai gula, pati, dan menyebabkan nutrisi lebih mudah diserap tubuh. Adanya proses ini bisa dilihat dari banyaknya ragi yang ditemukan pada makanan fermentasi.
Beberapa bakteri fermentasi melepaskan asam laktat dan pengawet alami, yang menyebabkan lingkungan pencernaan menjadi asam. Kondisi asam ini memicu pertumbuhan bakteri baik. Selain itu makanan fermentasi juga menjadi suplemen probiotik alami yang bekerja efektif di tubuh.
Peran bakteri dalam saluran pencernaan mendapat banyak perhatian. Peran ini menyebabkan konsumsi fermentasi yang kaya bakteri baik menjadi sangat dikenal dunia.
“Sekitar 70-80 persen faktor penentu daya tahan tubuh ada dalam pencernaan. Makanan fermentasi merangsang pertumbuhan bakteri yang menentukan imunitas tubuh. Sehingga makanan fermentasi sangat bermanfaat bagi yang mengalami batuk dan merasa kedinginan. Makana kaya probiotik ini juga mengontrol gejala seperti gangguan usus besar dan kembung,” kata Alison Clark dari British Dietetic Association.
Hal senada dikatakan penulis tentang pangan, Michael Pollan, yang mendukung makanan fermentasi. Pollan mengatakan, jumlah bakteri dalam tubuh manusia lebih banyak dibanding sel.
“Banyak ahli kesehatan menganggap bakteri adalah musuh. Padahal 99,9 tidak merugikan dan menguntungkan manusia,” kata Pollan.
Pollan dan Clark merekomendasikan variasi makanan fermentasi lainnya seperti zaitun, daging, dan keju. Makanan tersebut dapat merangsang imunitas, melawan alergi, dan membantu menurunkan berat badan karena membantu perut terus merasa kenyang.
Namun dari asupan tersebut sebaiknya dipilih yang mengandung banyak bakteri lactobacillus. Lactobacillus melepaskan asam laktat pada proses fermentasi, yang memberi banyak manfaat pada tubuh.
Riset yang dipublikasikan dalam Critical Reviews in Microbiology pada 2011 mengatakan, asam laktat bisa meningkatkan sistem imun, mencegah diare, maag, dan mengurangi alergi. 
Penulis : Rosmha Widiyani 
Sumber :
Editor :
Asep Candra 




Monday, January 27, 2014

Donat Krispy Kreme Inggris Umumkan Halal

thumbnail
Foto : thegrocer.co.uk



Rasa penasaran warga muslim Inggris mengenai kehalalan donat Krispy Kreme di negara tersebut akhirnya terjawab sudah. Dengan tegas perwakilan franchise donat kondang itu pun mengatakan bahwa produk Krispy Kreme halal.

Masalah kehalalan produk makanan masih kerap terjadi di seluruh dunia, termasuk Inggris. Salah satu franchise donat terbesar Krispy Kreme pun mendapat sorotan masyarakat sehubungan dengan kehalalan produk mereka.

Sebenarnya permasalahan kehalalan produk donat tersebut mencuat sejak beberapa tahun lalu. Adanya isu pengunaan alkohol dalam produk glaze donat (donat berlapis gula) menjadi sorotan masyarakat. Agar persoalan tidak semakin merebak, pihak manajemen Krispy Kreme langsung mengambil langkah cepat. Respon mereka adalah dengan memberikan pernyataan langsung lewat salah satu situs komunitas muslim Inggris.

Lewat perwakilannya Krispy Kreme menegaskan bahwa donat gleze miliknya tidak mengandung alkohol. Ia mengakui bahwa pembuatan donat tersebut mengandung bahan penyedap, namun bahan-bahan tersebut sebelum digunakan telah memperoleh persetujuan dari FDA setelah mengalami proses yang sangat ketat. Penyedap tersebut mengandung sejumlah kecil ethil alkohol yang juga secara alami juga dikandung oleh hampir semua buah-buahan dan sayuran.

Secara terbuka ia menyebutkan donat glaze mereka mengandung kurang dari 2 persen ethil alkohol. Dimana bahan tersebut penting dan banyak biasa digunakan dalam produksi makanan komersial. Bahkan, bahan perasa vanili, yang banyak digunakan dalam pembuatan es krim, kue, biskuit saja mengandung etil alkohol sebesar 35%. Selain itu, hal yang perlu dicatat adalah ketika bahan-bahan tersebut dicampur dalam proses pemasakan, maka kandungan etil alkohol menjadi kurang dari 0,02% akibat penguapan.

Kini ada sekitar 16 jenis varian Krispy Kreme yang dinyatakan halal dan telah memperoleh sertifikat dariHalal Food Authority (HFA). Bahkan mereka juga kini giat mengiklankan Krispy Kreme dengan logo halal HFA di kemasan mereka.

Devita Sari - detikFood

(dev/dev)

http://food.detik.com/read/2012/01/11/193025/1813087/906/donat-krispy-kreme-inggris-umumkan-halal







Tuesday, January 21, 2014

Bahan Tambahan Pangan dan Produk Turunan Alkohol, Area Abu-abu Halal?

thumbnail
Foto : Thinkstock

Perkembangan teknologi memungkinkan terciptanya produk turunan alkohol serta bahan tambahan makanan dan minuman. Pakar industri halal percaya bahwa penggunaan bahan-bahan tersebut berada di area abu-abu karena tidak ditetapkan sebelumnya oleh syariah.

Pendiri dan CEO International Institute of Advanced Islamic Studies(IAIS) Profesor Mohammad Hashim Kamali berkomentar mengenai masalah ini pada acara 'Halal Industry from a Global Perspective: Malaysia and Australia' di Kuala Lumpur, Malaysia, bulan lalu.

"Kita memasuki fase baru dalam industri (halal). Ada isu-isu baru yang terus bermunculan yang memerlukan riset karena tidak ditetapkan sebelumnya secara syariah," kata Kamali, seperti diberitakan The Malaysian Reserve (16/12/2013).

Menurut Kamali, industri halal sedang menghadapi perubahan besar yang bermanfaat bagi konsumen pada umumnya. Namun, ada kalanya timbul keraguan terkait kehadiran bahan tambahan, pewarna, dan produk turunan alkohol dalam makanan dan minuman.

"Perkembangan baru di industri halal, di antaranya bahan tambahan dan pewarna, telah memengaruhi proses pengambilan keputusan di industri tersebut," kata Kamali saat mempresentasikan tren baru industri halal di Halal Forum IAIS.

Menurut Kamali, alkohol yang sering digunakan sebagai pengawet di produk-produk tertentu diperbolehkan dalam dosis rendah, asalkan efek memabukkannya hilang saat diolah.

Menurut badan penetapan standar, penggunaan alkohol telah diatur dalam dua kategori, yakni alkohol dalam makanan (kurang dari 0,1%) dan bahan (kurang dari 0,5%).

Pengacara dan pakar keuangan Islam Fakihah Azhari menguatkan pendapat tersebut. "Isu kontroversial tentang area abu-abu dalam bidang halal adalah kehadiran alkohol dalam makanan dan minuman. Contohnya di AS, standardisasi yang dapat diterima dalam Islam adalah 0,1-0,3% alkohol dalam makanan dan minuman," jelasnya.

Fakihah menambahkan, badan-badan penetapan standar syariah global sependapat bahwa menyingkirkan produk turunan alkohol dosis rendah yang digunakan sebagai pengawet di makanan dan minuman adalah hal yang mustahil untuk saat ini.

"Alkohol bukanlah pokok permasalahannya, melainkan tingkat mabuk alkohol yang haram dalam Islam," ujar Fakihah.

Ia melanjutkan, pengolahan yang menghilangkan rasa, aroma, dan tampilan alkohol menjadikan produk turunan ini bisa digunakan untuk produk-produk halal. Menurut Fakihah, alkohol juga diproduksi oleh tubuh manusia dan ada di dalam sistem kita. Namun, kadarnya terlalu kecil untuk menyebabkan mabuk.


Fitria Rahmadianti - detikFood

http://food.detik.com/read/2014/01/16/182417/2469382/901/2/bahan-tambahan-pangan-dan-produk-turunan-alkohol-area-abu-abu-halal

(odi/dni)