Saturday, November 8, 2014

Benarkah Nasi Putih Mengandung Arsenik?


Foto : Shutterstock

KOMPAS.com - Kandungan zat-zat berbahaya bisa kita dapatkan dari mana saja, termasuk dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti nasi. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, arsenik bisa terkandung di dalam beras. 

Padi adalah satu-satunya tanaman yang ditumbuhkan dalam kondisi tergenang air. Belum jelas apakah air tersebut yang membuat arsenik anorganik, yang secara alami sebenarnya terkunci di mineral tanah, lebih mudah terserap oleh tanaman.

Menurut penjelasan Prof.Djoko Said Damardjati, peneliti dari Badan Litbang Kementrian Pertanian RI, arsenik dalam beras sangat ditentukan oleh faktor lingkungan tempat padi tersebut tumbuh.

"Bisa saja kalau sawahnya itu adalah bekas tambang atau dari pupuk yang digunakan. Persawahan yang berada di dekat pabrik atau sungai tercemar juga dikhawatirkan bisa membuat arsenik ditemukan pada beras," katanya. 

Djoko mengatakan, Kementrian Pertanian akan melakukan pengecekan kadar logam jika ada laporan dari masyarakat. Namun sejauh ini belum ada laporan sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah meluncurkan panduan kandungan arsenik pada beras, yakni 0,2 ppm untuk nasi putih dan 0,4 ppm untuk beras cokelat. Beras cokelat (brown rice) memiliki kandungan arsenik lebih tinggi karena proses penyosohannya hanya satu kali dibanding beras putih.

Salah satu cara untuk membatasi paparan arsenik bisa dilakukan dengan tidak mengonsumsi nasi secara berlebihan. Membeli beras yang sudah mendapatkan sertifikat SNI juga bisa menjadi cara karena ada aturan bahwa produk tersebut harus terbebas dari zat kimia berbahaya.


Lusia Kus Anna-Kompas Health

Thursday, October 16, 2014

Jus Untuk Detoksifikasi


Foto : Shutterstock


Mengonsumsi jus buah dan sayuran kini menjadi tren bagi mereka yang ingin mencukupi kebutuhan serat dan vitamin, sekaligus menangkal penyakit. Jus buah dan sayuran juga bisa membantu membuang racun-racun dari dalam tubuh alias detoksifikasi. 

Agar tujuan tersebut tercapai, ketahui dulu kiat-kiat dalam membuat jus.

Perhatikan kadar gula
Banyak orang yang mengira jus buah-buahan lebih sehat karena kandungan gulanya lebih rendah. Padahal, membuat jus dengan lebih dari satu jenis buah bisa lebih cepat menaikkan kadar gula darah. Karena itu pilihlah hanya satu jenis buah yang dicampur dengan sayur-sayuran.

Jus merah
Pilihlah jus delima karena mengandung antioksidan, termasuk asam ellagic yang bisa membantu fungsi liver dalam membuang racun. Selain itu jus bit juga direkomendasikan. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, bit sering dianggap seabgai pembersih darah. Buah bit juga diketahui bisa meningkatkan ketahanan atlet. Campurkan dalam jumlah sedang dalam jus Anda. 

Teh hijau
Dalam teh hijau terkandung antioksidan super yang disebut katekin. Penelitian menunjukkan zat ini membantu mengurangi lemak perut dan menurunkan risiko salah satu jenis kanker kulit.

Sayuran siap minum
Untuk mencegah efek radikal bebas pada tubuh, rutinlah mengonsumsi sumber vitamin dan antioksidan seperti sayur dan buah-buahan setidaknya 5 sajian dalam sehari. Jika Anda merasa kesulitan memenuhinya, buat saja menjadi jus. 

Jenis sayuran yang disarankan antara lain kale, bayam, brokoli, bok choy dan masih banyak lagi. Sayuran hijau ini tidak mengandung banyak gula dan kaya polifenol dan karotenoid, dua jenis antioksidan. Anda juga menggunakan seledri untuk meredam hipertensi dan meningkatkan produksi enzim pencernaan. 

Cukup air
Minumlah cukup air putih di pagi hari setelah bangun tidur. Mengapa? Saat bangun tidur tubuh biasanya dalam kondisi dehidrasi sehingga metabolisme cenderung melambat. Air akan membantu menghilangkan toksin dari tubuh.
(Lusia Kus Anna/Kompas.com)